Rabu, 30 April 2014

KISAH TIGA SAUDARA


            Pada zaman dahulu ada tiga saudara , kakak-beradik laki-laki , yang berkelana melewati jalan panjang berliku-berliku di senja hari .
            Pada waktunya , ketiga saudara ini tiba di sungai yang terlalu dalam untuk disebrangi dengan berenang . Meskipun demikian , ketiga saudara ini mneguasai ilmu sihir , maka mereka tinggal melembaikan tongkat sihir mereka dan sebuah jembatan muncul di atas air yang berbahaya itu . Mereka sudah tiba di tengah jembatan ketika ternayata jalan mereka dihalangi oleh sosok berkerudung .
            “Dan kematian berbicara kepada mereka “
Dia marah telah kehilangan tiga korban baru , karena para pengelana biasanya tenggelam di sungai . Tetapi kematian licik . Dia berpura-pura memberi selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka , dan berkata masing-masing berhak mendapatkan hadiah karena telah cukup pintar untuk menghindarinya .
            “Maka , si Sulung , yang suka bertempur , meminta tongkat sihir yang lebih hebat daripada semua tongkat sihir yang ada : tongkat sihir yang harus selalu memengangkan duel bagi pemiliknya , tongkat sihir yang layak diterima penyihir yang telah mengalahkan kematian ! Maka kematian menyeberang ke sebatang dahan pohon Elder di tepi sungai , membuat tongkat sihir dari dahan yang menggantung di sana , dan memberikannya kepada si sulung .
            “Kemudian si tengah , orang yang sombong , memutuskan dia ingin mempermalukan kematian lebih jauh lagi , dan meminta kekuatan untuk memanggil yang lain dari kematian . Maka kematian memungut sebutir batu dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah , dan memberitahunya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuj mengembalikam orang yang sudah mati .
            “Kemudian kematian menanyai si bungsu , apa yang diinginkanya . Si bungsu ini yang paling rendah hati dan juga paling bijaksana di antara ketiga kakak-beradik ini , dan dia tidak mempercayai kematian . Maka dia meminta sesuatu yang bisa membuatnya melanjutkan perjalanan dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian . Dan kematian , dengan amat-sangat enggan , menyerahkan jubah Gaib-nya sendiri kepadanya . “
            “Kemudian kematian  menyisih dan mengizinkan ketiga kakak-beradik itu melanjutkan perjalan mereka , dan merekapun melanjutkan perjalanan yang telah mereka alami , dan mengagumi hadiah dari kematian .
            “ ‘ Pada saatnya ketiga-beradik ini berpisah , masing-masing menuju tujuan mereka mereka sendiri-sendiri .
            “ Si sulung berjalan kira-kira seminggu lagi , dan tiba di suatu desa yang jauh , mencari penyihir kenalannya , dengan siapa dia pernah bertengkar . Tentu saja , dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya , dia tak mungkin kalah dalam duel yang terjadi . Meninggalkan musuhnya mati di lantai , si sulung menuju tempat penginapan . Di sana dia membanggahkan keras-keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperolehnya dari kematian sendiri , dan tentang bagaimana tongkat sihir itu membuatnya tak terkalahnkan .
            “ Malam itu juga , seorang penyihir lain mengendap-endap mendatangi si sulung yang sedang terlelap , bersimbah anggur , di tempat tidurnya . Pencuri ini mengambik tongkat sihirnya dan , sebagai tanbahan , mengorok leher si sulung .
            “Maka kematian menggambil si sulung sebagai miliknya .
            “Sementara itu , si tengah pulang ke rumahnya , tempat dia hidup sendiri . Dia mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati , dan memutarnya tiga kali dalam tangannya . Betapa heran dan gembiranya dia , sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya , sebelum gadis itu meninggal dalam usia muda , muncul seketika itu juga di hadapannya .
            “Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin , terpisah darinya seolah oleh sehelai selubung . Walaupun telah kembali ke dunia orang hidup , dia sesungguhnya bukanlah bagian dari dunia itu dan menderita . Akhirnya , si tengah , menjadi gila karena kerinduan yang sia-sia , membunuh diri supaya bisa benar-benar dengan gadis itu .
            “maka kematian menggambil si tengah sebagai miliknya .
            “ Namun , meski kematian mencari si bungsu selama bertahun-tahun , dia tak pernah berhasil menemukannya . Barulah ketika telah mencapai usia sangat lanjut , si bungsu membuka jubah gaibnya dan memberikannya kepada anak laki-lakinya . Dan kemudian dia menyalami kematian sebagai teman lama , dan pergi bersamanya dengan senang , dan sebagai teman lama , dan pergi bersamanya dengan senang , dan sebagai teman sederajat , mereka meninggalkan kehidupan ini .


(Dikutip dari : Harry Potter n  Deathly Hallows , karya J.K Rowling )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar